Belajar Menulis Puisi Bersama Dr. Wildan

Pertemuan FAMe Ke-24
Topik: Cara Menulis Puisi
Tempat: Ruang Memorial Perdamaian Kesbangpol Aceh
Pemateri: Dr. Wildan Abdullah, M. Pd (Wakil Rektor I ISBI Aceh )
Moderator: Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia)
Notulis: Ihan Nurdin
Apa itu puisi?
Dr. Wildan Abdullah membuka Kelas Menulis FAMe dengan pertanyaan tersebut pada peserta yang hadir. Beragam jawaban muncul hingga akhirnya beliau menjawab: Puisi sebagai sebuah karya sastra memiliki ciri-ciri berikut: 
  1. Jika ditulis tidak memenuhi halaman/margin kertas
  2. Punya daya imajinatif
  3. Bersifat universal 
  4. Menggunakan bahasa dan kata pilihan (diksi) yang memiliki konsekuensi (rima)
  5. Memiliki daya bayang tinggi (kekuatan puisi terletak pada kekuatan imaji)
Puisi disebut sebagai karya sastra tertua di dunia, awal mulanya bentuknya adalah Mantra. Kemudian sesuai perkembangan zaman berkembang menjadi pantun, syair, gurindam, teka-teki, dan lainnya.

Perbedaan karya sastra dengan karya ilmiah dan karya khayalan adalah sebagai berikut:
Karya sastra bersifat imajinatif/mungkin terjadi sedangkan karya ilmiah, berisi hal-hal yang sesungguhnya terjadi. Selain itu ada karya khayal; bersifat fantasi dan fiksi.

Imajinasi adalah rekaan, sesuatu yang diciptakan, yang mungkin terjadi. Berbeda dengan khayalan. Sebab pada dasarnya semua orang bisa berkhayal, namun tidak semua orang mampu berimajinasi.

Apakah boleh menuliskan puisi beranjak dari pengalaman diri sendiri? Boleh, inilah yang disebut sebagai sumber inspirasi. Namun perlu diingat, bahwa salah satu ciri puisi adalah universal (menyeluruh).

Jika puisi yang Anda tulis merupakan karya sastra, maka tulislah sesuatu yang imajinatif. Sastrawan mampu menciptakan dunia dalam kata, yang sebenarnya tidak ada, tetapi diciptakan. Hanya saja, penyair, sastrawan, menyampaikannya melalui alat yang disebut bahasa. Dalam puisi ada dua hal yang bermain yaitu ide dan perasaan. Yang bagusnya dua unsur ini sama kuatnya.

Bagi orang Aceh kebanyakan puisi, hikayat adalah puisi. Dalam sastra Melayu, puisi adalah prosa. Kemudian Pak Wildan membacakan salah satu puisi karya Maestro sastra tanah air, Chairil Anwar:

Senja Di Pelabuhan Kecil 
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Karya : Chairil Anwar (1946)

Selanjutnya salah satu peserta membaca puisi karya: WS Rendra berjudul: Di Mana Kamu De’Na? dibacakan oleh salah satu peserta kelas menulis FAMe yaitu Saudari Magdalena.


Di Mana Kamu De’Na?
Akhirnya berita itu sampai kepada saya:
Gelombang Tsunami setinggi 23 meter 
melanda rumahmu
Yang tersisa hanya puing-puing belaka.
Di mana kamu, De’Na?
Sia-sia teleponku mencarimu.
Bagaimana kamu, Aceh?
Di TV kulihat mayat-mayat 
yang bergelimpangan di jalan
Kota dan desa-desa berantakan
Alam yang murka 
manusia-manusia terdera
dan sengsara.

Di mana kamu, De’Na?
Ketika tsunami melanda rumahmu
Apakah kamu lagi bersenam pagi
Dan ibumu yang janda
Lagi membersihkan kamar mandi?

De’Na, kita tak punya pilihan
untuk hidup dan mati.
Namun untuk yang hidup
kehilangan dan kematian
selalu menimbulkan kesedihan
Kecuali kesedihan, selalu ada pertanyaan:
kenapa hal itu mesti terjadi
dengan akibat yang menimpa kita?

Memang ada kedaulatan manusia, De’Na
Tetapi lebih dulu
sudah ada daulat alam.
Dan kini kesedihanku yang dalam
membentur daulat alam.
Pertanyaanku tentang nasib ini
merayap mengitari alam gaib yang sepi.

De’Na! De’Na!
Kini kamu menjadi bagian misteri
yang gelap dan sunyi
Hidupku terasa rapuh
oleh duka, amarah, dan rasa lumpuh.
Tanpa kejernihan dalam kehidupan
bagaimana manusia bisa berdamai 
dengan kematian?

De’Na? Hatiku menjerit pilu.
Di mana kamu? Bagaimana kamu?
Yang tak bisa bisa kutolak dalam bayangan,
meski mataku terbuka atau terpejam,
adalah gambaran orang banyak berlarian,
dikejar gelombang 23 meter tingginya.
Dan lalu gempa yang menenggelamkan 
gedung-gedung tinggi,
membelah jalan raya,
menjadi jurang menganga.
Ribuan manusia menjadi sampah
dalam badai.

Kedahsyatan daulat alam, De’na!
Bukan sekedar kematian!
Inilah yang membuat aku gemetaran!
Tanpa menyadari 
apakah arti kebudayaan?
Apakah pula arti puisi?
Hidup dan segala usaha manusia
barulah berarti dan nyata
bila ia menyadari batas kemampuannya.

De’Na,
apakah sekarang kamu lagi tersenyum
membaca sajakku semacam ini?
Jakarta, 29 Desember 2004
Karya WS Rendra

Di dunia puisi diisi oleh berbagai pihak, mulai dari adanya pakar dan penikmat puisi (pembaca puisi). Puisi tergolong di dalam karya sastra bermakna ganda, tergantung interpretasi pembacanya. Tema sebuah puisi tidak mutlak. 

Dalam puisi juga perlu proses revisi:
  • Menjadikan pesannya agar menjadi milik bersama (universal)
  • Memilih diksi yang tetap sesuai konteks puisi (sedih, gembira)
Berbicara soal nilai puisi tidak pernah ada kata putus. Mengapa puisi menjadi indah, karena dia berupa karangan.

Puisi dikelompokkan menjadi:
1. Puisi Naratif (bercerita)
Dalam puisi bukan ingin mengembangkan rasa yang utama, tapi yang paling penting mengembangkan rasa empati. Contohnya pada puisi Nyanyian Angsa karya WS Rendra. Dapat dilihat di SINI

2. Puisi Lirik
Pada umumnya/sesungguhnya puisi adalah lirik. Ada tokohnya yang terlibat di dalam puisi.

3. Puisi Dramatik 
Puisi yang memiliki dialog dalam puisi tersebut. Namun yang berdialog bukanlah orang, tetapi konsep. Dapat dilihat di SINI

Bagi para pemula yang baru mengenal puisi, tidak perlu berkecil hati. Proses jadi salah satu cara menjadi seorang penulis puisi. Salah satu caranya dengan berlatih menulis puisi yang sederhana terlebih dahulu.

Pak Wildan juga mengingatkan bahwa seorang puisi termasuk di dalamnya penulis puisi. 

Tidak akan bisa menulis yang baik dan kaya makna tanpa asupan bacaan yang banyak dan berkualitas.


Komentar