Belajar Jurnalisme Naratif bersama Prof Janet Steele

Notula Pertemuan Ke-22
Hari dan Tanggal : Rabu, 20 Desember 2017
Tempat : Aula Fakultas Hukum Unsyiah
Topik : Jurnalisme Naratif, Kiat Menulis dengan Hati
Moderator: Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia)
Pemateri : Prof. Janet Steele Ph. D (Profesor dari George Washington University, USA)
Notulis: Ihan Nurdin


Acara dibuka oleh moderator dengan menceritakan profil singkat mengenai Prof. Janet Steele Ph. D Janet Steele adalah spesialis sejarah media. Ia penulis buku The Sun Shines for All; Journalism and Ideology in the Life of Charles A. Dana dan Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia, yang dialihbahaskan oleh Arif Zulkifli dan diterbitkan oleh P.T. Dian Rakyat tahun 2007.

Moderator juga menjelaskan secara singkat mengenai profil Forum Aceh Menulis (FAMe). Ini merupakan pertemuan pertama FAMe yang berhasil memecahkan rekor peserta terbanyak dari sebelumnya. 

Di awal kuliah umumnya, Prof. Janet Steele mengatakan bahwa undangan dari FAMe ini merupakan satu kehormatan bagi dirinya. Ia pertama kali ke Indonesia pada tahun 97-98, di era akhir kejatuhan Presiden Soeharto. Ia mengaku jatuh cinta pada Indonesia dan telah menganggap Indonesia sebagai rumah keduanya. 

Awal mula kedatangannya perdana dari Prof. Janet ke Aceh di mulai tahun 2006 silam. Adalah untuk memenuhi undangan dari Yayasan Pantau yang dimotori Linda Kristanti. Hingga berlanjut saat ini.

Dalam pemaparannya, Prof Janet berbicara panjang lebar mengenai Jurnalisme Naratif atau yang sering disebut sebagai Jurnalisme Sastrawi. Namun beliau sendiri tidak suka dengan istilah Jurnalisme Sastrawi. Menurutnya ada perbedaan substansial antara jurnalisme dan sastra. Baginya jurnalisme berangkat dari fakta dan kejadian yang sebenarnya sementara sastra adalah fiksi.

Ada asumsi bahwa pembaca tidak membaca semua kalimat hingga tuntas dari sebuah berita. Umumnya pembaca hanya membaca satu dua paragraf pertama saya. Ini kenyataan yang menyedihkan bagi si wartawan yang sudah bersusah payah membuat berita itu. 

Hal ini memicu pembaca untuk mencari informasi dari media sosial seperti Facebook karena gaya menulisnya yang dinilai lebih menarik dan up to date. Kebanyakan cerita yang dibagikan di Facebook lebih panjang seperti berbentuk cerita. Jadi ada semacam kontradiksi antara berita yang ditulis di sosial media dengan di media cetak.

Jurnalisme Naratif tetaplah jurnalisme. Ia mengedepankan semua prinsip jurnalistik yang baik, jujur, dan tidak mencampuradukkan antara fakta dengan fiksi. 

Janet kemudian mengajak peserta untuk melihat contoh tulisan yang sudah dibagikan kepada peserta. Tulisan berjudul A Boy Who Was 'Like a Flower'; 'The Sky Exploded' and Arkan Daif, 14, Was Dead. Tulisan ini menceritakan tentang kondisi perang Irak yang ditulis oleh Anthony Shadid dan dipublikasikan di The Washington Post pada 31 Maret 2003. 

Link tulisannya dapat dilihat di SINI

Dalam penulisan jurnalisme sastrawi, ia mengajak peserta untuk mencari unsur 5 W + 1 H dalam tulisan tersebut. Semua unsur 5 W + 1 H muncul dalam tulisan ini. Ketika membaca ini seakan ingin mengetahui tentang Arkan Daif dan keluarganya.

Bagaimana perasaan mereka tentang perang berkecamuk. Si penulisnya menggambarkan setiap suasana dengan baik, bagaimana ketika jenazah Arkan Daif diantar ke rumahnya, ada ibu-ibu yang menangis.

Tak hanya itu saja, dalam tulisan tersebut banyak anggapan dari masyarakat sekitar yang menjadi kutipannya. Dalam ledakan yang menewaskan anak laki-laki. Sejumlah asumsi dilahirkan dalam penggiringan ke opini publik.

Saat itu, berita di Amerika sering menuliskan perjuangan tentara Amerika di negeri 1001 malam, bukan tentang korban perang di pihak sipil Irak. Jadi ini sangat bagus karena memberikan perspektif berbeda. Tulisan ini mendapat respons beragam dari pembaca khususnya pembaca surat kabar tersebut. Ada banyak surat yang masuk ke redaksi.

Mulai dari anggapan mengapa pihak redaksi lebih mementingkan menuliskan tentang masyarakat sipil Irak dibandingkan perjuangan tentara Amerika di sana. Banyak juga yang mengecam keras, tetapi yang lainnya mengatakan ini sangat bagus. Seakan membuka anggapan masyarakat Irak saat itu yang dalam kondisi sulit.

Walaupun banyak mendapatkan banyak kritik dari publik Amerika, tulisan tersebut berhasil memenangkan penghargaan tertinggi dari Pulitzer Prize di tahun 2004. Seakan si penulis Anthony Shadid mampu membawakan alur cerita secara detail dan menguras perasaan pembaca.

Dalam Jurnalisme Naratif ada empat hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Adegan demi Adegan (Scene by Scene)
Jurnalisme naratif dimulai dengan adegan demi adegan. Show not tell, tunjukkan jangan ceritakan. Kembali ke tulisan di atas, tulisan itu menggambarkan secara utuh apa yang terjadi dan bagaimana perasaan orang-orang di sana. Beliau berharap teman-teman bisa menerapkan prinsip Jurnalisme Naratif. Tapi kalaupun tidak bisa, paling tidak meminjam unsur-unsur ini.

2. Penggunaan Kutipan
Kutipan akan menguatkan tulisan. Kalau kita mewawancarai seseorang, kita harus dengarkan dengan teliti. Jika orang itu mengatakan hal-hal yang menarik, itu bisa menjadi kutipan. Kita harus memikirkan kutipan-kutipan yang ekspresif sehingga mengesankan pembaca. 

3. Sudut Pandang Penulisan (Poin of View)
Ada kelebihan yang didapatkan seorang Blogger dalam informasi yang ia dapatkan. Sangat memungkinkan untuk menulis menggunakan 'saya' sebagai POV. 

Namun tentunya berbeda dengan seorang jurnalis karena jarang sekali si jurnalis sebagai pewarta juga bertindak sebagai saksi mata. Seorang jurnalis harus menggunakan kata kami atau nama lembaganya.

Salah satu contohnya ialah tulisan Tempo yang ditulis oleh Arif Zulkifli berjudul Dua Jam Bersama Hasan Tiro. Di sejumlah percakapan didapatkan bahwa tertulis kata-kata yang terlihat rancu. Salah satunya penulisan kata Tempo (merujuk pada majalah).

Berikut sebagian isi paragrafnya:
Tiba-tiba, Tiro beranjak ke pojok ruangan. Ia menyetel kaset Johann Sebastian Bach Toccata & Fugue dan Air in G. String sayup-sayup segera merambati ruangan. Sunyi. tak ada suara selain gesekan biola dan naskah yang dibaca TEMPO pelan-pelan. Sekali lagi lelaki itu termenung.
Tubuhnya disorongkan ke depan. Wajahnya serius. Matanya seperti menembus dinding apartemen. “Drama” satu babak itu berakhir. Tiro pada anaknya.

4. Detail
Janet juga mengulas mengenai sebuah laporan Tempo berjudul Dua Jam Bersama Hasan Tiro yang ditulis seorang wartawan Majalah Tempo Arif Zulkifli. Janet lantas meminta salah seorang peserta untuk membaca paragraf pertama. Ia lantas melempar pertanyaan kepada peserta; apa yang menarik dalam paragraf itu?

Berikut paragrafnya:
Lelaki itu merapatkan mantelnya. Ia berdiri di pintu balkon menghadap ke luar apartemen. Angin dingin musim semi berembus. Lima belas derajat Celcius. Kering, menusuk seperti jarum. Di luar, laut M_laren yang menggenangi Kota Stockholm berpendar-pendar. Di atasnya, sebuah bukit warna cokelat menyembul dari permukaan air. Udara cerah. Awan meriaki buru langit.
"Lihat pemandangan itu," katanya. "Mirip sekali dengan Aceh."

Ada sesuatu yang menarik, ketika tulisan ini dibuat Tempo buat peraturan bahwa penulisnya tidak boleh menggunakan 'saya' sebagai POV. 

Dalam artikel yang tayang di Tempo pada edisi Juni 2000, Arif diberikan mandat untuk bertemu dengan Presiden National Liberation Front of Acheh Sumatra (NLFAS). Atau yang lebih dikenal dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yaitu Hasan Muhammad Tiro.

Pertemuan selama dua jam seakan si wartawan tidak bisa mewawancarai Hasan Tiro. Sang penulis seakan mengamati segala hal dari Hasan Tiro. Mulai dari mengamati buku-buku yang tersusun rapi di rak, sisiran rambut hingga alunan musik klasik yang Tiro putar. Menggema ke seluruh ruangan, seakan penulis tidak diberi kesempatan untuk bertanya.

Tak hanya itu saja, Prof Janet Steele menyampaikan beberapa tips terkait dengan menulis jurnalisme naratif, berikut ulasannya.

1. Engine
Setiap berita pasti punya makna. Tapi tidak semua tulisan punya apa yang bisa disebut "engine" agar setiap pembaca mau membaca. Engine ini perlu untuk menggerakkan tulisan-tulisan panjang agar pembaca terus merasa ingin tahu.

2. Ada Penangguhan (Suspense
Jika ada informasi yang penting dan menarik tulislah dengan pelan, namun ketika ada informasi yang kurang penting tulis secara cepat saja untuk menghindari kebosanan bagi pembaca.

Selanjutnya di akhir kuliah umumnya, Prof Janet menjawab sejumlah pertanyaan dari peserta kelas menulis dengan lugas. Semoga dari materi yang disampaikan tersebut mampu mendorong minat anggota forum menulis Aceh untuk terus menghasilkan karya tulisnya.


Komentar