Tertib Berbahasa Indonesia

Notula             : Pertemuan ke 13
Hari/ Tanggal : Rabu, 25 Oktober 2017
Pemateri         : Herman RN (Dosen Sastra dan Bahasa Indonesia Unsyiah)

Materi             : Tertib dalam Berbahasa Indonesia
Tempat           : Warkop Duek Pakat Banda Aceh

Notulis            : Ihan Nurdin
(Pertemuan XIII) Tertib Berbahasa Indonesia
Banyak yang masih beranggapan tidak perlu berbicara sesuai kaidah bahasa Indonesia, yang penting lawan bicara paham. Kita lupa ketika ada kaidah yang dilupakan, ada sesuatu yang terabaikan, terutama makna dari bahasa.

Herman RN memulai materinya dengan menceritakan sepenggal kisah tentang Abu Nawas. Sosok ini dikenal dengan karakternya yang banyak akal dan tidak mau kalah. Suatu ketika Abu Nawas mengencingi kuburan milik ayah dari seorang raja dan ketahuan. Abu Nawas kemudian dipanggil untuk dimintai keterangan. 

Dengan kepandaiannya berkelit, Abu Nawas malah meminta raja agar membuang air besar di kuburan ayahnya, tapi tidak boleh buang air kecil seperti yang dilakukannya. Ini tentu saja mustahil dilakukan, mana bisa orang buang air besar tanpa diikuti dengan buang air kecil kan?

Suatu hari raja memberi memo kepada anak buahnya untuk mencari Abu Nawas. Isi memo tersebut: Abu Nawas dibunuh jangan ditinggalkan.

Nah, lagi-lagi dengan kelicikannya Abu Nawas mengubahnya isi memo tersebut hanya dengan menambahkan satu tanda baca berupa koma (,). Isi memo tersebut berubah menjadi: Abu Nawas dibunuh jangan, ditinggalkan!

Tanda koma (,) tersebut telah menyelamatkan Abu Nawas. Itulah sebabnya tanda baca sangat penting termasuk dalam keselamatan hajat hidup seseorang.

Salah penempatan tanda koma maknanya langsung berubah. Hal ini yang terkadang masih dianggap tidak penting. Apalah artinya satu tanda koma, tetapi cerita Abu Nawas di atas telah memberikan gambaran betapa pentingnya penggunaan tanda baca.

Berbahasa sesuai kaidah sangat penting. Dalam tata tulis ditandai dengan tanda baca, sedangkan dalam tata lisan ditandai dengan intonasi atau jeda.

7 Tertib Berbahasa Sesuai Kaidah
Dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar harus sesuai dengan kaidah yang berlaku di antaranya yaitu: 

1. Pemakaian Huruf
2. Perkara Penulisan Huruf
3. Tanda Baca
4. Penggunaan Unsur Serapan
5. Tata Tulis Kata
6. Pemilihan Kata/Diksi
7. Penggunaan Kalimat (kalimat efektif)

Ketika ketujuh elemen ini bisa diaplikasikan dalam praktek berbahasa, maka tulisan kita sudah selesai dalam persoalan tata bahasa. Sekalipun dalam tulisan jurnal ilmiah.

1. Pemakaian Huruf
  • Penggunaan huruf kapital dalam singkatan, kata, frasa, dan kalimat.
  • Singkatan yang diambil dari kata, rasa, dan gelar, umumnya dibubuhi tanda titik.
Contoh: 
  • Sarjana Pendidikan (S.Pd)
  • Allah swt.
  • Muhammad saw.
  • Sampai dengan (s.d)
Dua kata apabila disingkat jadi dua huruf maka harus dibubuhi titik (.)

jika satu kata disingkat jadi dua huruf keduanya disudahi dengan tanda titik (.)

Contoh: 
  • alaihisalam (as.)
Hal ini bisa dikecualikan untuk bahasa langgam atau selingkung. 

Contoh: 
Dalam ragam bahasa jurnalistik, 1-11 ditulis dengan huruf menjadi pada bilangan satu – sebelas. Itu dikarenakan satu – sebelas terdiri dari satu kata.
  • Singkatan resmi semuanya ditulis dengan huruf kapital tanda tanda titik.
Contoh: 
  • PT, CV, SMP, SD, FKIP, 
2. Penulisan Huruf
Ada 7 Bentuk Penulisan Huruf Miring dan semuanya berkaitan dengan penulisan huruf miring sesuai dengan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia).

1) Huruf miring digunakan dalam penulisan nama buku, judul tulisan, dan nama media massa dalam sebuah kalimat.
2) Huruf miring digunakan untuk penulisan alamat website.
3) Huruf miring digunakan untuk menegaskan/mengkhususkan huruf atau kata dalam sebuah kalimat.
4) Huruf miring digunakan untuk penulisan judul dalam daftar pustaka.
5) Huruf miring digunakan untuk menuliskan nama ilmiah dalam sebuah kalimat.
6) Huruf miring digunakan untuk menuliskan judul film dalam sebuah kalimat.
7) Huruf miring digunakan dalam penulisan unsur bahasa asing dan bahasa daerah.

3. Tanda Baca
  • Sekurang-kurangnya ada 16 tanda baca dalam kaidah bahasa Indonesia, mulai tanda koma (,) sampai tanda elipsis (...). Tanda elipsis ini untuk menjelaskan kalimat yang dipenggal/dihilangkan.
  • Tanda baca sangat penting dalam tata tulis.
  • Salah penempatan tanda baca dapat menimbulkan makna baru.
Contoh:
  • Kami makan tikus mati di kamar.
  • Kami makan, tikus mati di kamar.
  • Kami makan tikus mati, di kamar.
  • Pak Yarmen sudah datang.
  • Pak Yarmen sudah datang?
  • Pak Yarmen sudah datang!
Hanya ada tiga tanda baca yang bermakna mengakhiri kalimat, yaitu titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!).
Tanda baca ini penting dalam kaidah tatatulis. Salah menempatkan tanda baca, bisa salah makna/intonasi.

4. Penggunaan Unsur Serapan
  • Unsur serapan dalam kaidah tatatulis mengikuti aturan penyerapan dan penerjemahan sesuai PUEBI.
  • Serapan utuh, baik dari bahasa asing maupun daerah, yang belum dibakukan harus ditulis dengan huruf miring.
Contoh: 
Wi-Fi, Reshuffle, Smong, Ureung, dll.
  • Serapan utuh, baik dari bahasa asing maupun bahasa daerah, yang sudah dibakukan tidak perlu ditulis dengan huruf miring. 
Contoh: 
Kitab, balig, diet, film, domain, rapai, satire, apotek, teori/teoretis, dll.
  • Serapan penyesuaian, baik penyesuaian huruf (fonem), kata (morfem/afiks), atau frasa, yang sudah berterima ditulis mengikuti kaidah bahasa Indonesia.
Contoh: 
Guitar (gitar), artist (artis), photocopy (fotokopi), success (sukses), dll.
  • Penerjemahan yang disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
Contoh: 

  • Production (produksi-menghasilkan), 
  • Consumen (konsumen=pemakai, pengguna), dll.

5. Pembentukan Kata
  • Awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks), gabungan awalan dan akhiran (konfiks dan simulfiks)
Contohnya:
meN-
me-: m, n, l, r, ny, ng, w, y.
mem-: b, f, p.
men-: c, d, j, t.
meng-: g, h, k, vokal
meny-: s
menge-: suku kata

peN-
pe-: m, n, l, r, ny, ng, w, y.
pem-: b, f, p.
pen-: c, d, j, t.
pengh-: g

Kata dasar yang huruf pertama K, P, T, S, luluh saat bertemu meN- dan peN.

Contohnya:
  • Kerja: mengerjakan, pengerjaan
  • Pukul: memukul, pemukul
  • Tampar: menampar, penampar
  • Sapu: menyapu, penyapu
Pengecualian:
i. Konsonan ganda: prakarsa, khusus, stimulus, standar, dll.
ii. Unsur serapan: program, dll.
iii. Profesi: petinju, petenis, dll.
iv. Membedakan makna: mengaji-mengkaji, penyerta-peserta

6. Pilihan Kata (Diksi)
  • Menempatkan secara tepat kata denotatif dan konotatif. Misalnya: Penggunaan kata manis merujuk pada perempuan
  • Prinsip diksi: ketepatan, kecermatan, keserasian, kelaziman.
  • Padanan kata
  • Pasangan kata
7. Kalimat Efektif
  • Berisi S P O K
  • Harus sesuai dengan nalar/logis
Itulah sejumlah pedoman dalam berbahasa Indonesia baik bertutur kata dan penulisan yang baik. Semoga makin menyadarkan kita akan pentingnya pengguna bahasa yang benar. 

Semoga Menginspirasi.


(Pertemuan XIII) Tertib Berbahasa Indonesia

Komentar

Posting Komentar