Langsung ke konten utama

Peluncuran Forum Aceh Menulis

Notula            : Pertemuan Ke-4
Notulis           : Hayatullah Pasee
Hari                : Rabu, 09 Agustus 2017
Topik              : Deklarasi peluncuran Forum Menulis Aceh
Pemateri        : Drs. Reza Fahlevi, M.Si

Di luar dugaan, peluncuran Forum Aceh Menulis (FAMe) di Aula Museum Aceh begitu meriah. Meski Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Drs. Reza Fahlevi M.Si telat hadir, karena harus mengikut rapat di Kantor Gubernur Aceh, namun ia mengutus penggantinya yaitu Ketua Bidang Pemasaran, Ramadhani M Bust yang tak kalah menariknya dalam memaparkan visi dan misi Disbudpar Aceh. 
Forum dimoderatori Pembina FAMe, Yarmen Dinamika yang juga Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia. Sekitar 75 peserta hadir mewakili berbagai kalangan seperti blogger, wartawan, dosen, penulis, mahasiswa, dan ibu rumah tangga.

Menariknya lagi, hadir beberapa penulis dan blogger yang pernah menang kontes menulis tingkat nasional. Mereka semuanya diminta oleh Yarmen Dinamika menceritakan pengalaman menulis sehingga mampu memenangkan sejumlah lomba.

Selaku pengasuh forum ini, Yarmen juga mengulang beberapa materi yang pernah diajarkan dalam tiga pertemuan terakhir. Salah satunya tentang kualitas tulisan yang ditentukan oleh empat unsur: ide, bahan, bahasa, dan teknik penyajian. Yarmen juga mengungkapkan betapa pentingnya kemampuan menulis, baik untuk kepentingan akademis, komunikasi, korespondensi, maupun bidang lainnya.

Sementara itu, Ramadhani M Bust mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan para blogger dengan membentuk forum ini sesuai dengan apa yang ingin dibuat Disbudpar Aceh selama ini.
"Kita tak hanya bicara pariwisata, tapi juga budaya dan promosi Aceh hingga ke mancanegara," ujarnya.
Ia menambahkan, pariwisata Aceh terus menggeliat, apalagi Aceh telah menjadi destinasi pariwisata halal dunia. Saat ini, kunjungan wisatawan ke Aceh mencapai 31.000 per tahun. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat pelancong terbanyak yang melawat ke Aceh dari Malaysia.

Pihaknya terus menawarkan paket wisata menarik dan berupaya keras mendukung kiprah para pelaku wisata. Apalagi pariwisata Aceh memiliki tagline baru "The Light of Aceh". Dengan syariat Islamnya, Aceh akan menjadi cahaya penerang bagi Indonesia dan rahmatan lil alamin.

Ke depan, promosi wisata akan terus digencarkan. Selama ini dilakukan melalui empat strategi POSE, yaitu paid media, own media, media sosial, dan endorse. "Bicara wisata halal bukan menciptakan gambaran Islam radikal, tapi Islam yang friendly, damai, dan toleran," tutupnya.

Beberapa menit kemudian hadir Kadisbudpar Aceh. Sembilan penanya mengajukan pertanyaan kepadanya. Menurut Reza, ada empat pilar untuk memajukan pariwisata:
  1. Destinasi, harus ada fasilitas wisata yang menunjang seperti wisata alam dan budaya yang ditawarkan dari Aceh
  2. Promosi, khususnya untuk mempromosikan pariwisata harus punya branding. Branding baru yang diusung oleh Aceh adalah the light of Aceh.
  3. SDM, Kemajuan sebuah pariwisata juga tidak lepas dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang harus dilatih. Hampir semua tempat wisata dikelola oleh desa, maka tugas Disbudpar adalah mendidik pengelola itu. Beda dengan hotel yang SDM-nya sudah baik.
  4. Industri, Disbudpar memastikan hotel dan pelaku wisata bisa mengakses lebih luas.
Menurut Reza, akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media adalah satu sistem yang saling bersinergi untuk menjadikan wisata sebagai sektor unggulan.

Bicara pariwisata adalah bicara tentang what to see (apa yang dilihat), what to do (apa yang dilakukan), and what to buy (apa yang bisa dibeli). Inilah tugas pariwisata mendorong semua pihak menjadi operator. Pemerintah siap memfasilitasi. Pariwisata itu bisnis.

Penulisan Buku Rumah Aceh
FAMe didukung Disbudpar akan terbitkan buku profil 23 Rumoh adat Aceh. Buku ini rencana diterbitkan sebelum Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) tahun 2018. Tak kalah pentingnya, Reza mengizinkan tempat pelatihan menulis bagi FAMe menggunakan Aula Museum Aceh bahkan Museum Tsunami atau Taman Budaya Aceh.

Terakhir, forum menulis yang sebelumnya bernama Forum Barsela resmi diubah menjadi Forum Aceh Menulis atau yang disingkat FAMe oleh Kadisbudpar Aceh. Forum ini terbuka untuk umum, siapa saja putra-putri Aceh yang ingin belajar menulis secara gratis diperbolehkan bergabung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Steemit Lebih Jauh Bersama Ayi Jufridar

Hari Minggu 8 Oktober 2017 Narasumber: Ayi Jufridar (Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh) dan Steemian Aceh Materi: Mempelajari Steemit, Menjaga Konsistensi Menulis Tempat: Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe Notulis: Suhaimi Kelas Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Lhokseumawe memasuki pertemuan ketiga. Pada pertemuan kali ini, dipelajari tentang sebuah platform media sosial yang sedang beken di era milenial: Steemit.
Para pertemuan tersebut Ayi Jufridar selaku dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara. Beliau juga seorang novelis, Komisioner KIP Aceh Utara, mantan wartawan Serambi Indonesia dan tentu saja seorang Steemian.

Cerdas Mengelola Steemit Bersama Risman Rachman

Kelas FAMe ke-25 Tempat: Duek Pakat Kupi, Banda Aceh Topik: Cerdas Mengelola Steemit Pemateri: Risman A Rachman (CEO Aceh Trend) Moderator: Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia) Notulis: Ihan Nurdin

Acara kelas FAMe mulai dibuka oleh Yarmen Dinamika selaku Ketua FAMe Aceh, dalam diskusi yang melibatkan membuka diskusi dengan memaparkan sedikit hasil paparan Adnan Ganto dalam kuliah umumnya di Universitas Syiah Kuala. Dalam orasinya beliau menyampaikan ramalan Credit Suisse yang menyatakan bahwa di akhir 2018 ini ada lima negara yang memiliki populasi orang kaya terbanyak di dunia, salah satunya Indonesia.
Bukan tanpa alasan mengatakan seperti itu, salah survei yang dilakukan oleh Credit Suisse, dikarenakan banyaknya rekening orang Indonesia yang jumlahnya meningkat drastis. Salah satunya dugaannya membaiknya ekonomi orang Indonesia, salah satunya dengan adanya platform Steemit yang mampu menghasilkan orang kaya baru di tanah air.